Hari ini aku akan menceritakan tentang aku dan sahabatku beberapa tahun yang lalu. Namaku Resta. Aku seorang gadis yang lumayan manis. Satu-satunya kebanggaanku adalah kepintaranku. Oh ya, dan juga rambut panjang lurusku. Aku adalah gadis tomboy. Aku punya 2 orang sahabat, yang bersamaku sejak kelas 1 SMP dulu. Namanya Hesta dan Ardi. Hesta adalah kapten tim basket putra di SMA, sedangkan Ardi adalah ketua OSIS. Dan aku sendiri adalah sekretaris OSIS. Diantara mereka berdua, aku lebih dekat dengan Hesta. Semua yang aku pendam dia tahu dan sebaliknya. Akupun tahu kalau Hesta menyukai seorang gadis saat menginjakan kaki di kelas 3 SMA. Namanya Indi, gadis popular di sekolah pindahan dari Malang. Cerita ini adalah cerita yang membuatku tahu apa pentingnya seorang laki-laki. Karena aku menganggap seorang laki-laki hanya pantas untuk dijadikan sahabat. Sehingga aku tidak pernah tahu rasanya berpacaran. Cerita ini dimulai pada saat-saat terakhir, aku dan sahabatku berada di SMA, karena kami telah lulus.
KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!.................KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!!!!!!! “HAI MONSTER!! BANGUN!! DAH JAM SETENGAH 8!!” teriakku dari seberang telepon saat Hesta mengangkat gagang teleponnya.“Iya gue tahu. Tapi jangan teriak-teriak kayak gitu dong!” “Cepetan berangkat! Indi baru aja lewat lho!” kataku. TUUUUUT……….TUUUUUT……….TUUUUUT Hesta pun meletakkan kembali gagang teleponnya dan bergegas untuk pergi ke sekolah.
Di sekolah, aku menunggu kedatangan Hesta. Jam tangan kulirik. Ternyata telah menunjukkan jam setengah 9 kurang 10 menit. Berarti rapat perpisahan telah dimulai dan hamper selesai.
Kemudian, aku melihat sosok laki-laki yang sudah tak asing lagi bagiku. Dia tak lain adalah Hesta, yang membawa motornya menuju tempat parkir. Beberapa lama kemudian, dia menghampiriku.
“Lo tuch emang kebiasaan ya! Bangun siang. Untung gue telepon, kalo enggak lo gak bakalan ketemu Indi,” kataku dengan sebal.
“Sory, trus Indinya mana?” tanyanya.
“Indi? Ya udah gak ada lah. Gue tuch liatnya jam 7. Ya udah lewat 1 setengah jam…”
“Jadi, lo nunggu gue selama itu?”
“Ya enggak lah. Bego banget kalo gue nungguin lo,” kataku gengsi.
“Eh, Nyet! Lo mau kuliah dimana?”
“Gue di Jakarta aja. Kalo lo?”
“Gak tahu. Tapi Ardi katanya mau ke Jogja.”
Panjang umur si Ardi! Baru diomongin udah nongol.
“Hai, Ta!” serunya sambil melambaikan tangan. Aku dan Hesta pun melambaikan tangan, karena tak tahu siapa yang dipanggil Ardi. Aku atau Hesta?
“Darimana lo, Di?” Tanya Hesta.
“Dari rapat perpisahan OSIS,” jawabnya.
“Oh………Ta! Kok lo gak ikut?” Tanya Hesta yang membuat aku kaget. Sebenarnya aku tidak mengikuti rapat, karena aku ingin menunggu Hesta. Tapi aku kan gengsi ngomongnya.
“Gue males aja ikut. Untung masa jabatan gue udah berakhir. Dan gue udah gak diperluin,” jawabku bohong.
“Ta! Tu Indi!” kata Ardi sambil menyikut ulu hati Hesta. Indi yang melihat kami bertiga pun tersenyum dan mendekat.
“Hai, Ndi! Tumben sendirian?” tanyaku.
“Iya. Lagi males aja bareng-bareng. Kamu mau kuliah dimana?” tanyanya.
“Aku di Jakarta. Kalau kamu? Pasti di Malang, kan?”
“Enggak. Aku mau kuliah di Amrik. Di Malang kan sekolahnya gak bagus. Kalau kamu dimana, Di?” tanyanya pada Ardi.
“Kalau gue mau di Jogja. Soalnya bokap dipindah kerja.”
“Kalau kamu?” tanya Indi pada Hesta.
“Aku? Aku juga mau ke Amrik,” jawabnya.
“Tapi lo tadi…” kata-kataku terpotong karena Hesta menginjak kakiku.’Aw sakit,’ pikirku.
“Wah, kebetulan banget. Kalau kita bareng kayaknya asyik deh. Aku mau berangkat lusa, kalau kamu?” tanya Indi.
“Aku juga lusa. Gimana kalau kita berangkat bareng?” tawar Hesta.
“Ok,” jawab Indi singkat. “Kalu gitu aku pergi dulu, bye!” katanya sambil berlalu. Hesta pun segera menyingkirkan kakinya itu.
“Ternyata lo udah berani bohongin gue!” bentakku yang merasa cemburu.
“Mau gimana lagi, Ta! Gue gak mau kehilangan dia lagi. Lo tahu kan, kalau gue udah nembak dia 4 kali?” katanya yang membuatku makin cemburu. Didalam hatiku, aku terus bergumam, ‘kamu gak boleh cemburu! Hesta teman kamu. Sahabat kamu. Kamu gak suka dia.’
“Jadi, lo kuliah di Amrik cuma karena Indi?” tanyaku menguatkan.
“Iya. Dan seperti yang gue bilang, lusa gue pergi,” katanya lemah, dan aku pun makin kecewa.
“Ta! Gue pergi dulu, ya. Kalian selesaiin aja berdua!” kata Ardi yang segera pergi.
Hesta mengajakku ke caffe sepulang dari SMA. Hanya aku dan dia. Aku masih merasa marah sekaligus cemburu terhadapnya.
“Lo serius mau berangkat lusa?” tanyaku pada Hesta.
“Iya. Dan itu artinya, kita Cuma punya besok buat kumpul.”
“Cuma sehari?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
“Sori, Ta! Emang ini mendadak banget,” kata Hesta sambil menggenggam tanganku. “Sejujurnya, gue gak mau ninggalin lo dan juga Ardi. Tapi…”
“Udah, Ta! Gue udah tahu apa yang mau lo ucapin. Tapi lo jangan lupain gue!”
“Gak akan. Setiap hari, gue akan kasih e-mail ke lo. Gue gak akan ngelupain lo yang udah 6 tahun ngedengerin gue,” kata Hesta yang membuatku makin enggan ditinggalnya. ‘Ta! Aku pengin kamu tetep tinggal,’ pikirku.
“Ta! Janji ya!”
“Semuanya! Oh ya, karena besok hari terakhir kita. Gimana kalau besok kita makan? Sama Ardi juga,” kata Hesta ceria. ‘Kirain berdua doang!’ pikirku.
“Boleh. Di tempat biasa!” kataku yang juga ceria, tapi hanya luarnya. Dalamnya, hancur berkeping-keping.
“Setelah pesta bareng kalian, gue akan ngungkapin perasaan gue ke Indi.”
“Tapi kalau ditolak?”
“Gue yakin diterima.”
Ardi yang seperti biasa, kalau habis pulang dari SMA pasti buka HP dan segera merekam suaranya. Dan kini, dia pun melakukannya.
“Aku cemburu mengingat kamu dipeluknya…ku yakin diriku yang…”
BRAAAAAAAAAK!
Pintu kamar Ardi terbuka, aku pun menerjang masuk ke dalam. Kemudian memeluk Ardi sambil menangis. HPnya pun tergeletak begitu saja.
“Ada apa, Ta?” tanya Ardi ragu-ragu.
“Gue gak mau dia pergi, Di!” kataku dalam pelukan Ardi. “Dia udah milih buat hidup bareng Indi.”
“Lo cemburu?” tanya Ardi, dan akhirnya aku pun menceritakan semua yang terjadi padaku.
Setelah beberapa saat, aku pun merasa tenang.
“Di! Tolong lo jangan ngomong hal tadi sama Hesta, ya! Gue gak mau persahabatan kami hancur gara-gara hal itu,” pintaku setelah aku menceritakan semua.
“Gue janji, gue gak akan ngomong. Tapi sori, Ta. Gue gak bisa ngasih saran apa-apa.”
“Kan udah gue bilang tadi. Yang penting lo mau ngedengerin gue. Sekali lagi makasih. Gue pamit,” kataku sambil berlalu.
Hari ini adalah hari terakhir Hesta di Indonesia. Sekarang dia berada di sebuah caffe yang terbuka bersama Ardi.
“Di! Resta kok gak dateng-dateng. Jangan-jangan dia lupa lagi!” kata Hesta yang telah lama menunggu kedatanganku.
“Tahu! Paling lagi di jalan. Ta! Gue ke toilet dulu, ya!” kata Rdi sambil berdiri dari tempatnya.
“Di! Sekalian nunggu Resta di luar, ya! Oh ya, pinjem HP lo dong!” kata Hesta, dan Ardi pun memberikan HPnya pada Hesta dan bergegas ke toilet.
Hobi Hesta kalo udah megang HP Ardi adalah mendengarkan rekaman suara. Dan suara itu biasanya lucu-lucu. Mulailah Hesta mendengarkan rekaman-rakaman itu.
Aku sekarang berada di sebuah taksi yang menuju ke caffe taman. Aku memegang HPku, dan mulai mendengarkan voice mail dari Hesta kemarin.
“Ta! Selama gue di Amrik, lo harus jaga diri, ya! Kalau gue nyaranin, lebih baik lo nyari cowok deh. Gak selamanya kan lo ngejomblo terus? Lo harus tahu pentingnya seorang cowok. Dan gak selamanya lo nganggep kalau cowok itu lebih baik dijadiin sahabat daripada temen hidup. Sebenernya, gue gak mau ninggalin lo, karena gue takut lo kenapa-napa. Tapi ini demi Indi. Lo tahu kan gue tergila-gila sama dia? Seandainya Ardi kuliah di Jakarta, pasti gue gak akan khawatir, karena dia akan ngejagain lo. Tapi sayang, kita semua harus pisah. Jaga diri baik-baik, ya! Berlakulah sopan sama cowok, supaya dapet teman hidup. Gue sayang lo. Kita pasti akan terus berteman.”
Kumatikan HP, air mata pun menetes. ‘Kalau kamu sayang aku, pasti kamu gak akan ninggalin aku,’ pikirku.
Hesta masih tetap asyik mendengar rekaman suara Ardi, sedangkan Ardi masih menungguku.
Tiba-tiba Hesta melihat rekaman yang berjudul TOP SECRET, karena penasaran, dia pun membuka dan mendengarkannya. Mulanya dia hanya geli mendengar suara Ardi, tiba-tiba terdengar isak seorang gadis, suaraku. Aku tak ingat bahwa pembicaraanku dengan Ardi tersimpan. Hesta pun mendengarkannya dengan cermat.
“Aku cemburu mengingat kamu dipeluknya…ku yakin diriku yang…BRAAAAAAAAAK!.........hiks…hiks………Ada apa, Ta?.........Gue gak mau dia pergi, Di!...Dia udah milih buat hidup bareng Indi………Lo cemburu?………Iya, Di! Cemburu banget!...lo tahu kan kalau selama ini gue naroh perhatian lebih ke dia, gue sayang banget sama dia. Sayaaaaaaaaaang banget…hiks…tapi ternyata, dia mutusin buat pergi demi Indi. Gue cemburu…sakit hati. Dia pernah ngomong kalau gue harus nyari teman hidup. Setelah gue temuin orang itu, orang itu bakalan pergi. HESTA BAKAL PERGI!.........Lo cinta Hesta, ya?.........Banget. cinta gue ke dia gak akn bias tertandingi…hiks…6 tahun bareng dia cuma berakhir kayak gini. Sedih. Akhirnya pisah juga. Gue sengaja gak nyari cowok, karena gue cinta ke dia. Tapi kenyataannya, dia cuma nganggep gue sahabat. 6 tahun? Percuma. 6 tahun bareng, tapi jadinya sad ending. Sedangkan sama Indi, baru kenal kurang dari 1 tahun, bakal hidup bareng! Di Amrik. Apa yang harus gue…hiks…lakukan, Di?.........Ta! sori gue gak bisa kasih saran apa-apa. Gue emang bukan sahabat yang baik………Enggak kok. Lo udah mau ngedengerin gue aja, gue udah seneng banget………Sekali lagi sori. Gue emang gak bisa kayak Hesta………Jangan sebut nama itu lagi! Kalau gue denger nama itu lagi, gue makin gak mau kehilangan dia………Sori, Ta!.........Di! tolong lo jangan ngomong hal tadi sama Hesta, ya! Gue gak mau persahabatan kami hancur gara-gara hal itu………Gue janji, gue gak akan ngomong. Tapi sori, Ta. Gue gak bisa ngasih saran apa-apa………Kan udah gue bilang tadi. Yang penting lo mau ngedengerin gue. Sekali lagi makasih. Gue pamit………BRAK!.........Ya ampun! Kerekam………”
Hesta hanya terdiam mendengar rekaman tadi. Tampak di wajahnya ekspresi marah. ‘Kenapa lo gak bilang dari dulu kalau lo suka sama gue!’ pikir Hesta. Tak lama kemudian, aku dan Ardi pun datang.
“Sori, Ta! Nunggu lama. Abis taksinya mogok,” kataku pada Hesta dan berdiri di depannya. Hesta pun berdiri dan mengangkat HP Ardi.
“APA MAKSUD SEMUA INI!” seru Hesta sambil menunjuk HP Ardi. ”KENAPA LO GAK NGOMONG HAL INI KE GUE, TA! KATANYA LO SAHABAT GUE. TAPI KENAPA LO MAIN RAHASIA-RAHASIAAN SAMA GUE?!”
“Apa maksud lo, Ta?” tanyaku bingung.
“Ini! Dengerin aja!” kata Hesta sambil memutar kembali rekaman tadi. Aku pun tak percaya kalau percakapanku tempo hari terekam. Ingin rasanya aku menangis.
“Sori, Ta! Gue gak bermaksud kayak gitu,” kata Ardi lirih padaku.
“Bisa jelasin?” tanya Hesta sinis, “BISA JELASIN GAK?!”
“Gak ada yang perlu dijelasin lagi, kan?!” seruku dengan suara bergetar. “Lo udah tahu semua. SEMUANYA! Lo udah tahu isi hati gue yang sebenarnya terhadap lo. Jadi, apa yang perlu dijelasin?!”
“Gue mau ketegasan lo!” seru Hesta.
“OK!” kataku sambil menarik napas. ‘GUE CINTA AMA LO DAN GUE GAK MAU LO PERGI!” teriakku sambil meneteskan air mata. “Gue cuma takut kalau sampai lo tahu hal ini, persahabatan kita rusak. Tapi gue salah. Karena gue nyimpen perasaan ini, persahabatan ini…gue anggap berakhir,” kataku makin melemah, “GUE PERGI!”
Aku pun pergi meninggalkan Hesta dan Ardi sambil menangis. Aku tak tahu kenapa aku berani mengatakan hal tadi. Aku merasa kalau aku adalah wanita murahan. Aku menyesal. Aku sudah kehilangan cinta…dan juga…sahabat terbaik.
“INI SEMUA KARENA LO. KALAU LO GAK NGEREKAM ITU, DIA PASTI GAK AKAN PERGI!” bentak Hesta pada Ardi.
“Karena siapa? Karena gue? Nyadar dong, Ta! Kalau ini semua karena lo! Kalau lo gak ngomong lo tergila-gila sama Indi, Resta gak bakalan sakit hati dan pergi kayak gini!” seru Ardi, yang mulai naik darah.
“Sejak kapan lo tahu, kalau Resta suka sama gue?”
“Sejak pertama masuk SMA. Tapi dia selalu ngomong kalau gue gak boleh ngomong hal ini ke lo…”
“Ini kesalahan lo. Kalau lo ngomong hal ini lebih awal, pasti gak akan gini jadinya…”
“INI KEMAUAN SIAPA? RESTA! KOK LO JADI NYALAHIN GUE!” bentak Ardi. “Kalau lo bener-bener gak mau Resta pergi dan benci lo. Lo susul dia dan lo…tinggalin Indi…”
“Tapi…”
“EGOIS BANGET SICH LO! INI YANG NAMANYA SAHABAT? UNTUNG LO NGEDENGERIN HAL ITU. KALAU ENGGAK, RESTA BAKAL LEBIH SAKIT HATI. HIDUP HARUS MILIH. LO MILIH RESTA…ATAU INDI?”
Mendengar hal itu, Hesta langsung pergi entah kemana. Aku tak tahu. Karena kini aku sedang dalam perjalanan pulang.
Kini jam di kamarku menunjukan pkl. 10 malam. Tapi mataku belum terpejam. Aku terus menangis sambil memandang fotoku bersama Hesta. Berdua. Tanpa sadar, aku merobek foto itu menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk.
Tok………tok………tok………
Aku terkejut ketika mendengar pintu kamarku diketuk. Kubersihkan kepingan-kepingan foto itu, dan kuusap kedua tanganku ke wajahku agar air mataku tak terlihat. Kubuka pintu kamarku.
“Ta! Ada yang nyariin!” kata Mama.
“Bilang aja Resta udah tidur.”
“Resta! Jangan biarkan Mama bohong.”
“Tapi Ma…”
“Resta!”
Aku pun segera turun dan menuju teras depan. Aku melihat sesosok pria yang sudah tak asing lagi bagiku. Hesta. Dia datang malam ini. Aku pun segera berbalik untuk masuk ke rumah. Tapi tangan Hesta mencegahku.
“Apa mau lo, sich?!” tanyaku dengan suara bergetar.
“Gue cuma mau minta maaf…”
“Maaf? Gampang banget sich lo ngomong kayak gitu.”
“Ta! Dengerin dulu dong. Gue emang salah, tapi gue sadar, kalau lo adalah yang terbaik. Gue sayang lo…”
“Udah dech. Gak usah ngomong lagi. Mending sekarang lo balik, istirahat. Bukannya besok lo mau ke Amrik, bareng sama wanita lo itu!” kataku dengan suara yang makin bergetar. Air mataku pun mulai menetes.
“Maksud lo, Indi? Gue udah ke rumahnya, tadi barusan. Dan gue ngomong ke dia, kalau gue gak jadi kuliah di Amrik. Gue akan kuliah di Jakarta. Dia tanya kenapa, gue jawab…karena lo. Gue gak mau terjadi sesuatu sama lo. Gue sayang lo! Gue cinta lo!”
“Gak usah gombal deh!”
“Gue gak gombal. Gue sadar kalau tanpa lo, gue gak akan jadi diri gue sendiri. Selama ini lo mau ngedengerin gue, ngatasin masalah gue, disamping gue. Itu yang bikin gue suka. Gue ngerasa aman kalau ada lo…”
“T’rus, Indi?” tanyaku yang mulai tenang.
“Itu cuma emosi sesaat. Gue tahu kalau gue gak bener-bener sayang sama dia. Gue cuma sayang lo. Sejujurnya, gue juga gak mau kehilangan lo. Bagi gue, lo adalah sahabat sekaligus someone special for me. Ardi tadi ngomong, kalau hidup harus milih. Dia tanya, gue milih lo atau Indi? Gue langsung pergi buat ninggalin Indi dan…milih lo.”
“Lo gak bercanda, kan?”
“Gue seruis, kita akan terus bersama,” kata Hesta sambil memelukku, “gue akan kuliah bareng lo. Gue akan di samping lo, ngejagain lo, dan ngelindungin lo dari cowok-cowok. Karena gue gak mau, lo ngelirik cowok lain dan ninggalin gue. Gue gak mau kehilangan lo. Gue sayang lo.”
Aku diam sesaat. Kemudian berkata…
“Gue juga. Thanks ya. Malam ini, lo udah bikin gue tahu, apa arti seorang lelaki. Laki-laki emang diciptain bukan buat sahabat doang, tapi juga temen hidup,” kataku, dan Hesta pun tersenyum. Dan ciuman mesra dan nyata, terjadi malam ini. Malam ini, akan menjadi malam yang tak pernah kulupakan. Sesaat yang lalu, aku kehilangan cinta dan sahabat. Tapi tak lama kemudian, aku mendapatkannya kembali. Aku sangat bersyukur karena Tuhan sangat menyayangiku.
Kini, 5 tahun setelah cerita tadi. Aku duduk di caffe taman menunggu sahabatku, Ardi. Dan teman hidupku, Hesta. Aku sekarang adalah wanita dewasa yang di jari manisnya terdapat cincin, tanda pertunanganku dengan Hesta. Bahagianya aku, mendapatkan cinta dan sahabat terbaik di dalam hidupku.
“Hai, sayang!” kata suara yang sudah tak asing lagi bagiku. Suara Hesta. Dia datang bersama Ardi. Dia pun segera mencium keningku dan duduk di sebelahku. Cepat-cepat aku menutup buku harianku.
“Kamu lagi ngapain?” tanya Ardi.
“Aku hanya sedang mengingat, tentang hari dimana aku tahu…APA ARTI LELAKI.”
THE END
Writen By: Gya ‘99

Tidak ada komentar:
Posting Komentar