3 SEGITIGA
Dalam kehidupan ada sesuatu yang kita mililki dan ada sesuatu yang pasti rela untuk dikorbankan. Di sini aku ingin bercerita tentang tiga segitiga dalam kehidupanku. Segitiga yang membuat hidupku kian berwarna, kian bermakna. Segitiga yang membuatku bahagia, tertawa, berduka, kecewa, setia, dan tentunya jatuh cinta.
Aku hanyalah seorang gadis biasa-biasa saja yang tidak memiliki kelebihan dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, tapi aku memiliki kisah yang bermakna. Kisah tentang tiga segitiga yang takkan pernah dimiliki oleh gadis lain di belahan dunia manapun. Dan beginilah kisahnya.
Segitiga pertama berawal sejak aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Segitiga ini terbentuk oleh 3 orang sahabat: aku, Randy, dan Reno. Kami bertiga sahabat, walaupun kami baru bertemu tapi kami bertiga merasa cocok satu sama lain.
Aku pribadi lebih dekat dengan Reno. Dia anak yang baik, pintar, lucu, pandai bergaul, hanya saja tingkahnya terlalu hiperbola alias lebai. Semua orang senang berada di dekatnya termasuk aku. Semua orang mempercayakan isi hati mereka termasuk aku. Isi hatiku dimana aku menyukai sahabatku yang lain, Randy.
Randy baik, lucu, ramah. Dia hampir sama seperti Reno, hanya saja Randy lebih bisa mengontrol ekspresinya dibandingkan dengan Reno. Dia benar-benar lucu. Aku dekat dengannya karena aku merasa nyaman berada dekat dengan dia. Dan pada akhirnya aku tahu, kalau Randy juga menyukaiku.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya buah kasih sayang di hatiku bersemi untuk seorang Randy, dan tak dapat dipungkiri, Randy pun memiliki perasaan yang sama terhadapku. Kami pun menjalin sebuah hubungan. Aku tahu kami hanyalah siswa SMP yang masih awam akan cinta. Kami tahu bahwa yang kami rasakan hanyalah cinta monyet semata, tapi tak apa! Namanya juga remaja.
Satu minggu! Hanya satu minggu hubungan itu berjalan. Kami memutuskan untuk berpisah, berpisah sebagai sepasang kekasih tapi tetap menjalin sebuah persahabatan. Tahukah kenapa kami memutuskan seperti itu? Itu karena Reno. Reno menyukaiku, sama seperti Randy. Tapi apa mau dikata, persahabatan jauh lebih berarti. Aku memutuskan Randy demi nama persahabatan. Agar Reno tak sakit hati, Randy pun berbuat demikian dengan alasan yang sama. Jadi inti dari segitigaku yang pertama adalah kekasihku memilih putus demi persahabatan.
Segitiga kedua dalam hidupku ketika aku duduk di bangku kelas X SMA. Aku mempunyai seorang sahabat, Adly namanya. Kebetulan dia satu kelas denganku. Kedekatanku dengannya bermula saat dia patah hati. Dia bercerita banyak kepadaku. Dia berkata banyak kepadaku. Aku tak menyangka rasa sayang muncul di hatiku dan di hatinya.
Sepanjang kisah cintaku sampai setelah kejadian ini, aku menyadari bahwa rasa sayang paling besar adalah rasa sayangku padanya. Kenangan indah semua ada diantara kami. Tapi aku tahu dan aku menyadari kalau dia sembunyi-sembunyi menyayangiku. Maksudku, dia jujur padaku kalau dia menyayangiku, tapi dia tak mau orang lain tahu akan hal itu.
Tengah malam selalu kata sayang muncul dari bibirnya untuk membuatku tertidur lelap. Aku tahu kami tak berpacaran. Aku tahu kalau hubungan kami hanyalah Hubungan Tanpa Status, tapi aku pun tahu kalau aku benar-benar menyayanginya, sampai kejadian itupun terjadi.
Dengan tiba-tiba dia menjauhiku. Dia tak mengontakku. Walau kami satu kelas, tapi tak ada sapaan yang berarti untukku. Aku tahu kalau dia masih menyayangiku, karena dia selalu menyanyikan lagu yang memang selalu dia nyanyikan untukku disela-sela jam istirahat. Aku tahu dia masih menyayangiku.
Lama aku merasa terhianati, akhirnya aku tahu apa yang terjadi. Sahabat dekatnya, Andri, ternyata juga menyayangiku. Aku kecewa. Adly memilih untuk mengorbankan hatinya yang begitu menyayangiku demi untuk sahabatnya yang aku pribadi tak begitu mengenalnya. Dan aku terlanjur sakit hati terhadap Adly karena dia tak mau jujur akan hal tersebut. Dia menyerahkanku begitu saja, seperti menyerahkan barang rongsokan.
Demi untuk menghilangkan rasa sakit hatiku, aku pun menerima cinta Andri begitu saja. Hidup dalam kepura-puraan cinta begitu membuatku merasa berdosa. Aku pun putus darinya.
Inti segitiga keduaku adalah orang yang amat kusayangi dan menyayangiku rela berkorban demi sahabatnya.
Segitiga ketiga dalam hidupku terjadi saat aku berada di bangku kelas XII SMA. Mungkin semua akan bosan mendengar ceritaku, tapi apa boleh buat, inilah hidupku.
Aku memiliki seorang sahabat, sahabat yang telah aku anggap kakakku sendiri. Vian namanya. Dia baik, lucu, pengertian, kocak, dan tentunya mau berbagi. Aku satu kelas dengannya. Aku sempat tak menyetujui hubungannya dengan seorang adik kelas, tapi apa mau dikata, itu haknya. Dia pun akhirnya berpacaran dengan gadis itu.
Aku juga memiliki seorang teman, aku tak berani memanggilnya sahabat, karena aku memang tidak terlalu dekat dengannya. Irfan namanya. Kedekatanku dengannya hanya sebatas teman sekelas dan teman satu ekstrakulikuler. Tapi entah kenapa, pada akhirnya aku bisa begitu dekat dengannya, aku merasa nyaman dengannya.
Aku tahu ini salah. Terlalu gampang aku menyukai seseorang, tapi kenyataannya aku memang memiliki rasa itu lagi. Aku menyukai Irfan. Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja karena kupikir dia tak mungkin menyukaiku, hingga pada waktunya aku mempunyai firasat kalau dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku.
Irfan mulai menelponku setiap pagi, mengirim pesan singkat setiap hari. Aku pun mulai curiga, hingga pada waktunya dia menyatakan perasaannya kepadaku. Tanpa pikir panjang, tanpa berpikir ke depan, aku menerimanya karena memang pada saat itu aku juga menyukainya.
2 bulan sudah aku berpacaran dengan Irfan, aku mulai merasakan jenuh, bosan. Aku tahu aku salah. Aku tahu ini tak boleh terjadi, tapi kemudian aku terlalu terjerumus dengan persahabatanku dengan Vian. Aku kelewat dekat dengannya. Aku tahu kalau Irfan juga bersahabat dengan Vian. Dan aku tahu hubungan Vian dengan kekasihnya tak lagi mulus. Dan entah kenapa hal itu malah membuat aku sedikit bahagia dan sedikit lega.
Irfan pernah berkata kepadaku kalau Vian berkata, “Fan, aku jomblo lho. Aku bisa aja suka sama Tyas.”. “Kalau kamu suka Tyas, aku bakal kejar kamu. Aku sayang banget sama dia,” kata Irfan pada Vian. Mendengar hal itu, dan aku tahu Vian hanya bercanda karena dia suka bercanda, aku terus memikirkannya. Andaikan hal itu benar terjadi, siapa yang harus kupilih? Haruskah ku korbankan Irfan demi persahabatan seperti 2 segitiga sebelumnya? Ataukah aku lebih memilih Irfan? Itu tak mungkin! Tapi aku juga tak mungkin untuk lebih memilih Vian. Aku memuja persahabatan, itu benar. Tapi aku tak mau menyakiti orang untuk kedua kalinya. Aku tak mau menyakiti Irfan seperti aku menyakiti Andri.
Dan akhirnya lebih baik ku putuskan saja untuk tak memilih dua-duanya. Biarlah di segitiga ketiga ini semua mengalami pengorbanan yang berarti, bukan hanya pihak pertama ataupun pihak kedua. Walaupun demikian aku berharap persahabatan akan terus terjalin.
Dan kini aku tahu, dari dulu aku tahu. Persahabatan adalah segalanya. Takkan mampu apapun menggoyahkan sebuah persahabatan sekaligus itu cinta. Persahabatan adalah harta karun yang paling berharga yang pernah aku temukan di dunia ini. Friendship is the biggest treasure on the world.
I love you my best-friend
Written by gEnZ_redjuphi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar